Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 November 2019

PERSETUBUHANMU ITU

“Kapan aku kaya,” katamu
Sambil makan bermangkuk-mangkuk uang
tangan meraup  peruntungan orang dengan rakus
Dengan mata nanar 
menghitung harga nisan sendiri dengan benda fana
Menari dan  menginjak-nginjak rasa waras yang ingin tumbuh
dekat tanah sempit itu


“Kapan aku terkenal,” ujarmu
Sambil mematut-matut
Mencoba bermacam topeng di depan kamera
Sinarnya yang membutakan akan membuatmu lupa
Pujian-pujian itu meliuk ganas  menjadi titian tangga 
yang akan membuatmu jatuh

“Kapan aku berkuasa!” teriakmu
Sambil memainkan banyak nasib di ujung kuku jari
Dahsyat...
Mereka ruku dan sujud kepadamu
Lebih dari taat mereka kepada-Nya
Langit terisak lalu menangis sejadi-jadinya

“Muak aku mendengarnya!” umpat bumi
Sampai aku sunggi pun 
engkau merasa kurang
Sampai aku engkau setubuhi pun 
Engkau tak akan pernah puas

2017

DI PESTA RAKYAT

Kami datang dengan gembira
membawa balon diikat beraneka warna
untuk mereka para pemilik hajatan

Diselingi badut-badut tersenyum menyukakan
dan pukauan tukang sulap melenakan
sungguh meriah pesta ini
aneka acara datang menghibur
kacang rebus dibagikan cuma-cuma
komidi putar membius hati
kembang api berakrobat
melambungkan harapan kami ke langit
terang benderang lalu kelam lagi

Sorak tepuk tangan menyambut harap
pemilik hajatan bicara melegakan
balon demi balon diserahkan dengan suka cita
hingga tanpa disadari
banyak  mereka yang terbang sendiri
dengan balon-balon kami

Tuhan..
tolong sisakan satu untuk kami

Selasa, 08 Mei 2018

Bagi Para Pemakai Sepatu Kets


Sepatu kets dengan langkah-langkah  kecil
berinjit-injit, menyelinap sedikit ganjil
Berjalan pelan seperti air di parit depan sekolahku
berkelok sedikit dan tiba-tiba mengejutkan dengan lembut

Dengan sedikit siasat aku terpukau
sampai aku terpaku kaku
oleh indah lilin menyala di mata mereka
Tulus senyum-senyumnya begitu terasa
Bergoyang lucu bagai kuncup-kuncup yang memekar
membuatku kangen dan trenyuh
sampai-sampai sore menjadi meluluh

Membawakan  harapan di hadapanku
Kutiup dan kubisikkan doa
keinginan memesona berkelip-kelip
semoga tercapai harapanku dan mu

4 Oktober 2017

IN MEMORIAM

Perbincanganku dengan waktu terlalu mengasyikkan
Kadang meninggi, melebar, meluas, lalu akhirnya menukik
Lalu mengiris-iris garis rajah di tangan

Kisah dalam kartu pos berloncatan
Berhamburan membentuk ikatan yang lentur
Kau pun terbangun
“Lihat, aku bisa terbang sekarang” ucapmu riang
Sambil melompat-lompat di atas trampolin
Bermain dalam aneka pelangi
(Ya bidadariku, kini engkau punya sayap kecil)

Dan lukisan dalam lekuk-lekuk pilu di dahi
Berubah menjadi jalinan bola bekel
Melenting-lenting mendekatkan masa lalu dan kini
Fantastis

Gerimis ini sangat menyenangkan
Seperti dulu, kau kugendong meniti harapan dan ketakutan

Sementara kita terus berjalan
Sepi melolong tinggi
Purnama itu terlalu indah untuk kita

13 Mei 2011

REQUIEM


                                                                Biarkan semua seperti seharusnya
Tak kan pernah jadi milikku
Peter Pan


(“Ayah, kau sudah lelah,” ucapmu sayup-sayup)
Tenanglah Dik, kita akan segera sampai di tujuan
Kubawa engkau ke delapan penjuru mata angin menghindar
kegetiran yang mendesing di atas kepala kita.

Walau takdir berderap menghunus ajal mengancammu
Kubuka dada menentangnya
Bila kau mau biarlah tubuh tuaku menjadi tameng buatmu

Sungguh berduri jalan yang harus kita tempuh, dik
Tak tega aku membopong tubuhmu yang ringkih terguncang-guncang

Tapi tekadku hanya satu
Kita akan siasati ruang dan waktu
Kita akan senandungkan harapan itu bermil-mil jaraknya

(“Ayah, aku sudah lelah,” ucapmu sayup-sayup)
Dan aku terhenyak
Kata-katamu mengerem kesadaranku dari pelarian
Selintas engkau kulihat terseret-seret mengikutiku
Akhirnya aku sepakat untuk tak melanjutkan perjalanan
Dan waktu pun memperlambat pengejarannya
Membiarkan aku memandangmu untuk terakhir kali

Selamat jalan sayang
Biar kutenangkan diriku
Sambil memandang kepekatan yang menganak sungai

Perlahan maut mendekapmu dengan iba
Dari atas pangkuanku
“Ia sangat menyayangimu,” ucapnya pelan
“Maka, relakanlah”

Link soal Formatif untuk ulangan susulan diskusi dan cerita inspiratif (boleh open book) https://drive.google.com/open?id=126qDce3xdsowKf...