Biarkan
semua seperti seharusnya
Tak kan pernah jadi milikku
Peter Pan
(“Ayah, kau
sudah lelah,” ucapmu sayup-sayup)
Tenanglah Dik,
kita akan segera sampai di tujuan
Kubawa engkau
ke delapan penjuru mata angin menghindar
kegetiran yang
mendesing di atas kepala kita.
Walau takdir
berderap menghunus ajal mengancammu
Kubuka dada
menentangnya
Bila kau mau
biarlah tubuh tuaku menjadi tameng buatmu
Sungguh
berduri jalan yang harus kita tempuh, dik
Tak tega aku
membopong tubuhmu yang ringkih terguncang-guncang
Tapi tekadku
hanya satu
Kita akan
siasati ruang dan waktu
Kita akan senandungkan
harapan itu bermil-mil jaraknya
(“Ayah, aku
sudah lelah,” ucapmu sayup-sayup)
Dan aku
terhenyak
Kata-katamu
mengerem kesadaranku dari pelarian
Selintas engkau
kulihat terseret-seret mengikutiku
Akhirnya aku
sepakat untuk tak melanjutkan perjalanan
Dan waktu pun
memperlambat pengejarannya
Membiarkan aku
memandangmu untuk terakhir kali
Selamat jalan
sayang
Biar
kutenangkan diriku
Sambil
memandang kepekatan yang menganak sungai
Perlahan maut
mendekapmu dengan iba
Dari atas
pangkuanku
“Ia sangat
menyayangimu,” ucapnya pelan
“Maka,
relakanlah”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar