Selasa, 08 Mei 2018

REQUIEM


                                                                Biarkan semua seperti seharusnya
Tak kan pernah jadi milikku
Peter Pan


(“Ayah, kau sudah lelah,” ucapmu sayup-sayup)
Tenanglah Dik, kita akan segera sampai di tujuan
Kubawa engkau ke delapan penjuru mata angin menghindar
kegetiran yang mendesing di atas kepala kita.

Walau takdir berderap menghunus ajal mengancammu
Kubuka dada menentangnya
Bila kau mau biarlah tubuh tuaku menjadi tameng buatmu

Sungguh berduri jalan yang harus kita tempuh, dik
Tak tega aku membopong tubuhmu yang ringkih terguncang-guncang

Tapi tekadku hanya satu
Kita akan siasati ruang dan waktu
Kita akan senandungkan harapan itu bermil-mil jaraknya

(“Ayah, aku sudah lelah,” ucapmu sayup-sayup)
Dan aku terhenyak
Kata-katamu mengerem kesadaranku dari pelarian
Selintas engkau kulihat terseret-seret mengikutiku
Akhirnya aku sepakat untuk tak melanjutkan perjalanan
Dan waktu pun memperlambat pengejarannya
Membiarkan aku memandangmu untuk terakhir kali

Selamat jalan sayang
Biar kutenangkan diriku
Sambil memandang kepekatan yang menganak sungai

Perlahan maut mendekapmu dengan iba
Dari atas pangkuanku
“Ia sangat menyayangimu,” ucapnya pelan
“Maka, relakanlah”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Link soal Formatif untuk ulangan susulan diskusi dan cerita inspiratif (boleh open book) https://drive.google.com/open?id=126qDce3xdsowKf...