Ada energi positif yang timbul dengan kegiatan ini. Sekitar dua puluh tahun ke belakang, kita jarang mendengar atau tahu ada guru yang dikirim untuk mengikuti pelbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas. Sekarang, banyak guru yang meninggalkan tugas utamanya di sekolah yaitu mengajar karena besarnya tuntutan tersebut.
Pertanyaan utama yang muncul adalah mengapa banyak guru yang dianggap kurang profesional. Hasil Uji Kompetensi Guru yang diadakan oleh Depdiknas menunjukkan bahwa rata-rata nilai guru dari hasil uji tersebut masih jauh dari harapan pemerintah. Apakah gurunya yang bodoh, ataukah zaman yang tidak bisa dikejar oleh kebanyakan kalangan guru?
Coba kita ingat lagi kronologis rentetan pemikiran masyarakat tentang guru. Dahulu, ada ungkapan yang kita kenal, guru adalah orang yang digugu dan ditiru. Pada masa kolonial, masyarakat sangat percaya dan yakin akan tindakan yang dilakukan guru. Guru sering dijadikan rujukan untuk peristiwa atau masalah yang terjadi pada masa itu. Pada masa Orde Baru pun, guru masih sangat dihormati.
Namun, zaman sekarang sering terjadi guru makhluk bodoh dan tidak pantas mengajar di depan kelas.
Sama dengan pandangan siswa terhadap guru. Pada zaman dahulu mereka sangat hormat kepada guru. Murid lebih percaya kepada gurunya daripada orang tuanya. Lalu, mengapa sekarang berubah? Dapat kita buat sedikit hipotesis bahwa guru banyak yang ketinggalan dalam mengikuti zaman. Tahun delapan puluhan sumber utama infomasi adalah guru dan televisi. Pada masa itu, televisi yang ditonton adalah TVRI. TVRI selalu sarat dengan berita positif dan sarat informasi. Zaman sekarang, guru-guru baru bermunculan dalam bentuk internet dan televisi dengan berbagai saluran. Anak sudah lebih cepat menangkap informasi daripada gurunya. Tampilan guru-guru baru pun lebih menarik daripada guru yang berdiri di depan kelas dan berceramah sampai mulutnya berbusa. Anak-anak lebih tertarik pada facebook daripada memperhatikan gurunya.
Karena paradigma berpikir tentang perubahan zaman masih banyak belum berubah, guru sering terheran-heran dengan ketidakmampuannya dalam menarik minat siswa sedangkan siswa heran mengapa guru tidak bisa memahami apa yang mereka inginkan. Satu hal yang harus dipahami guru bahwa zaman sudah berubah dan guru harus mengikuti perubahan itu. Jangan memaksa anak untuk mengikuti gaya guru. Ikutlah mengalir bersama zaman. Namun, guru-guru dalam bentuk multimedia ini menyisakan satu masalah. Orang-orang yang menggilainya tidak menyukai kegiatan membaca guru.
Data statistik UNESCO 2012 yang menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Angka UNDP juga mengejutkan bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen saja. Sedangkan Malaysia sudah 86,4 persen. Pastinya, salah satu pihak yang berkontribusi untuk rendahnya minat baca itu adalah kalangan guru.
Kesadaran akan kesalahan cara pandang bangsa ini terhadap pentingnya membaca ini kini mulai muncul melalui kegiatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Harus diingat pepatah yang mengatakan guru kencing berdiri murid kencing berlari. Jika gurunya malas membaca, siswa akan lebih tidak suka membaca. Jadi, gerakan ini harus dipahami sebagai kegiatan untuk semua anggota komunitas sekolah termasuk guru, bukan hanya untuk siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar