Judul yang dikemukakan pada tulisan ini menyiratkan dua hal yang bertentangan (paradoksal). Haruskan guru yang seharusnya mentransfer ilmu kepada orang lain juga menjadi pihak yang menerima ilmu? Haruskah subjek sekaligus bisa juga menjadi objek? Atau dalam bahasa yang lebih ngepop sering diucapkan Joshua dalam iklan, “Masa jeruk makan jeruk?”
Di dalam psikologi, kita mengenal istilah alam bawah sadar. Dalam www.akuinginsukses.com dijelaskan bahwa alam bawah sadar bisa dianalogikan sebagai sebuah bank memori yang sangat besar. Kapasitasnya hampir tak terbatas. Tugasnya adalah untuk memastikan bahwa kita merespon persis seperti apa yang kita programkan. Alam bawah sadar membuat apa yang kita katakan dan lakukan sesuai dengan pola konsep diri kita. Secara bawah sadar pula kadang ada guru yang berpikir bahwa yang bertugas menyampaikan ilmu adalah guru, sedangkan belajar adalah tugas siswa. Konsep bawah sadar ini juga akan mempengaruhi tindakan dan pola pikir sadar. Hal ini menjadikan guru cepat puas dengan ilmu yang dimiliki maupun cara mengajarkannya tanpa menyadari bahwa dunia sudah berubah. Apalagi jika guru tersebut berada pada lingkungan yang statis sehingga tidak mensyaratkan peningkatan kualitas siswa secara signifikan sedangkan siswa telah memiliki “guru-guru lain” yang diwakili oleh media elektronik dan internet. Sungguh celaka, murid telah melangkah jauh, sedangkan guru masih berjalan di tempat yang sama.
Data Kementrian Pendidikan Nasional Tahun 2015 lalu menunjukkah bahwa nilai rata-rata Uji Kompetensi Guru secara nasional adalah 56,69. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada peningkatan nilai dari tahun sebelumnya yang hanya 47. Tentu nilai tersebut belum memuaskan pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah terus menaikkan nilai ambang batas atau nilai ketuntasan minimal menjadi seperti yang diharapkan pada tahun 2019 yaitu 80.
Apakah hasil UKG telah mencerminkan kemampuan guru secara utuh? Hal itu tentu akan selalu menimbulkan pro dan kontra dan diskusi yang panjang. Tidak ada alat uji yang secara sempurna yang dapat memetakan kemampuan secara utuh seperti halnya tidak ada pisau yang dapat memotong semua benda. UKG yang dilaksanakan mungkin ada kekurangan, tetapi apakah guru dapat menyalahkan nilai yang kurang kepada alat tes? Diperlukan kedewasaan dalam mengambil sisi positif dari hal ini.
Program guru pembelajar yang digagas pemerintah harus disambut baik oleh para guru. Program Guru Pembelajar adalah program peningkatan kompetensi bagi guru yang melibatkan partisipasi publik meliputi pemda, ormas, orang tua siswa, serta dunia usaha dan dunia industri dalam bentuk kegitan pendidikan dan latihan, kegiatan kolektif guru, dan kegiatan lain yang mendukung. Visi misi Kemdiknas 2015-2019 mengisyaratkan peran vital guru. Jabatan guru harus terus berkembang menjadi profesi yang bermartabat dan tidak dianggap remeh oleh pihak lain. Konsekuensinya, sistem pembinaan dan pengembangan keprofesian guru yang berkelanjutan harus terus diikuti. Suka atau tidak, guru harus terus meningkatkan kemampuan mereka terutama dalam bidang profesional, pedagogi, dan kemampuan Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat. Demikian arif para tetua kita dalam menekankan betapa pentingnya menuntut ilmu. Antusiasme harus ditumbuhkan karena tidak ada kata selesai dalam belajar. Anggap saja nilai UKG dan kemampuan guru yang sesungguhnya tidak berbanding lurus. Anggap saja nilai yang kurang memuaskan tidak mencerminkan kemampuan guru yang sesungguhnya, tetapi meningkatkan nilai UKG hukumnya wajib karena hal itulah alat ukur yang digunakan oleh pemerintah dalam menilai kompetensi guru.
Untuk meningkatkan level kompetensi guru, hal utama yang harus dilesapkan ke dalam alam bawah sadar adalah niat untuk mau belajar, baik untuk yang mendapatkan nilai UKG tinggi maupun yang mendapatkan nilai UKG rendah. Jika alam bawah sadar telah menerima perintah untuk mau belajar, seluruh jaringan tubuh kita akan bersatu dan menyiapkan kondisi-kondisi kondusif untuk belajar. Semua rasa malas atau kesulitan ketika menuntut ilmu akan dapat diatasi. Apalagi di dalam agama, menuntut ilmu hukumnya wajib dan berpahala jika dilakukan dengan ikhlas. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Ilmu dan pahala didapatkan dalam waktu yang bersamaan. Anggap saja nilai rata-rata UKG tahun lalu sebagai sebuah kegagalan. Jangan takut untuk gagal, karena dengan gagal, akan diketahui jalan untuk menjadi berhasil. Seperti ucapan Thomas Paine yang dikutip oleh Esep Muhammad Zein, seorang penulis dan praktisi pendidikan. “Manusia sejati selalu tersenyum ketika menghadapi masalah, menghimpun kekuatan dalam kesedihan, dan mengasah keberanian dengan refleksi diri.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar