Sekitar sebulan yang lalu, saya mengikuti pelatihan menulis yang diselenggarakan oleh Kagum (Komunitas Guru Menulis dan Membaca) Bogor. Tujuan awalnya adalah untuk menemukan komunitas yang beranggotakan orang-orang yang senang menulis. Dengan demikian, saya dapat menimba ilmu sekaligus berbagi pengalaman tentang hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan menulis. Alhamdulillah, dalam empat kali pertemuan, saya dapat menghilangkan keraguan saya dalam menulis. Saya menjadi lebih percaya diri dalam menulis walaupun belum tentu tulisan saya dianggap bagus oleh orang lain.
Kami memiliki satu kesamaan yaitu kami sama-sama gemar akan kata menulis. Mulai dari orang yang ingin tahu tentang proses menulis, dari suka membaca tulisan orang lain, senang menulis namun tidak yakin bahwa tulisannya layak dibaca, sampai dengan orang yang dulu pernah menulis namun terlupakan oleh kesibukan. Kami saling memberi semangat dan memberi masukan terhadap tulisan-tulisan yang dibuat.
Ada satu hal yang menarik dari kegiatan yang saya ikut saat itu. Pertama, dari delapan belas peserta pelatihan, guru bahasa Indonesia yang mengikuti kegiatan itu tidak sampai tiga puluh persennya. Kedua, dari tiga mentor kegiatan itu hanya satu orang yaitu Pak Esep, ketua MGMP Kabupaten Bogor yang merupakan guru bahasa Indonesia. Pertanyaannya, di mana keberadaan guru-guru bahasa Indonesia?
Kesibukan dalam mengajar mungkin menjadi faktor penyebab sedikitnya guru bahasa Indonesia yang mengikuti kegiatan pelatihan menulis itu. Program Guru Pembelajar, mentoring Kurtilas, menjadi pembimbing ekstrakurikuler, atau kegiatan lain juga menambah padatnya kesibukan guru. Harus diakui, bahwa sekarang guru banyak yang sangat super sibuk. Apalagi, di musim hujan seperti ini, rasanya berat sekali mengikuti kegiatan menulis yang dimulai dari jam 13.45 sampai dengan sekitar jam 16.00.
Secara iseng saya membuka grup MGMP ini. Kalau tidak salah, percakapan (chat) yang biasa kita baca berisi obrolan biasa, tegur sapa sesama anggota, hal lain yang berhubungan pekerjaan sebagai guru, atau mengirim ulang tulisan orang lain (mem-forward) yang bermanfaat. Tidak ada yang salah dengan itu semua. Namun, ada baiknya juga jika kita menuliskan ide-ide yang membuat kita resah melalui grup WA ini. Inilah sarana kita untuk menulis. Kita bisa menulis cerpen, puisi, pantun, opini, feature, atau apa saja yang berhubungan dengan menulis, apalagi sangat berhubungan dengan kegiatan mengajarkan bahasa Indonesia kepada siswa. Para pembacanya bisa memberikan komentar dalam bentuk ikon senyum, tepuk tangan, atau komentar tulis yang bermanfaat atau menambah kepercayaan diri penulisnya. Dengan demikian, akan timbul interaksi yang dinamis antar-anggota MGMP. Kita semua akan gemar menulis.
Guru bahasa Indonesia memiliki persenjataan yang lebih baik dalam menulis jika dibandingkan dengan guru-guru lain. Ketika orang lain masih terbata-bata memahami aneka definisi bentuk tulisan, seorang guru bahasa Indonesia sudah lebih dahulu tahu tentang hal itu. Jika dianalogikan dengan karya-karya komik Marvell, Kita adalah guru-guru yang super seperti halnya Superman dianugerahi kemampuan untuk terbang dan tenaga super, kita sudah memiliki dasar keilmuan tentang menulis, EYD, gaya bahasa, jenis-jenis tulisan, dan lain-lain. Tinggal ada kemauan, beraneka ragam tulisan akan mengalir dengan indah.
Tulisan ini bukan berarti ada pengkotak-kotakkan dalam menjadi penulis. Siapa pun berhak untuk menulis. Akan tetapi, akan lebih terasa elegan ketika lebih banyak guru bahasa Indonesia yang lebih aktif menulis. Memang membutuhkan latihan untuk dapat menghasilkan karya yang berkualitas. Namun, jika tidak dicoba, mau kapan kita menghasilkan karya yang bagus. Sarananya sudah ada yaitu grup WA ini.
Saya yakin banyak penulis andal di grup ini. Buktinya, ada yang sudah menerbitkan buku karya sendiri atau tulisannya dipublikasikan oleh koran, misalnya Bu Endang, Bu Neli, atau guru-guru lain yang belum terpantau hasil karyanya. Barangkali, ada baiknya belia-beliau ini memberikan pencerahan tentang proses kreatif mereka dalam menghasilkan sebuah karya dan menularkan kemampuannya kepada kita semua.
Terakhir, satu kata untuk rekan semua “Para Guru Super, Menulislah”.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Link soal Formatif untuk ulangan susulan diskusi dan cerita inspiratif (boleh open book) https://drive.google.com/open?id=126qDce3xdsowKf...
-
Tadi di TV diberitakan sebuah peristiwa, 3 orang dirawat dan 1 orang tewas karena menenggak minuman keras oplosan. Sudah sering kita ...
-
Menjadi profesional adalah tuntutan pemerintah kepada guru-guru saat ini. Sejak tunjangan sertifikasi digulirkan, banyak tuntutan dibebankan...
-
Sebelumnya kami mohon maaf kepada Bapak, Ibu, Kakak, Adik, Om, Tante, Opa, dan Oma yang membaca broadcast ini karena telah terganggu dalam ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar